'Pertama di dunia', vaksin dirancang oleh kecerdasan buatan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, James Gallagher
- Peranan, Koresponden sains dan kesehatan
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Kecerdasan buatan (AI) untuk pertama kalinya digunakan untuk mengembangkan vaksin "yang secara fundamental baru" guna melawan berbagai macam virus dan mencegah pandemi, kata para peneliti.
Tim ilmuwan di University of Cambridge mengatakan ini adalah pertama kalinya komponen utama vaksin dirancang sepenuhnya oleh AI dan kemudian diuji pada manusia.
Vaksin ini direkayasa untuk melawan semua virus corona yang mencakup semua varian Covid serta virus-virus yang menginfeksi hewan, tetapi dapat memicu pandemi berikutnya.
Penelitian ini masih pada tahap awal, tetapi tim tersebut sudah mengembangkan vaksin terpisah yang dapat menangani flu dan Ebola.

Sumber gambar, Getty Images
Vaksin mengajarkan tubuh kita cara mengenali infeksi untuk meningkatkan peluang menang saat melawannya.
Namun beberapa virus mahir mengubah tampilannya—atau bermutasi—sehingga vaksin dapat dengan cepat menjadi usang.
Inilah alasan mengapa vaksin Covid dan flu musiman perlu diperbarui secara berkala.
"Kami selalu tertinggal," kata Prof Jonathan Heeney dari University of Cambridge.
Dia menambahkan "apa yang kami coba lakukan adalah berada di depan kurva" dan sedemikian jauh di depan sehingga dapat melindungi manusia dari wabah baru atau pandemi.
Bagaimana cara kerjanya?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Biasanya vaksin dirancang menggunakan satu jenis virus yang sedang beredar.
Para peneliti Cambridge mengambil kode genetik yang telah diketahui dari berbagai virus corona yang telah dicatat oleh berbagai program pengawasan yang mencari potensi ancaman virus.
Kode genetik ini kemudian dianalisis oleh kecerdasan buatan.
Selanjutnya, AI merancang sebuah "super-antigen" yang dapat melatih sistem kekebalan tubuh sedemikian rupa sehingga memberikan perlindungan terhadap seluruh keluarga virus—bahkan jika virus tersebut bermutasi atau infeksi baru berpindah dari hewan ke manusia.
Antigen adalah komponen penting dalam vaksin karena inilah yang dipelajari oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang.
Baca juga:
Heeney mengatakan ini adalah pertama kalinya antigen yang dirancang oleh AI diuji pada manusia.
Ia menyebut teknologi ini "mengejutkan kita semua" dan "luar biasa apa yang dapat kita lakukan dengannya untuk kebaikan umat manusia".
Heeney mengatakan kepada BBC News: "Ini tentang membuat vaksin yang melindungi kita, bukan hanya dari virus hari ini, tetapi melindungi kita dari apa yang dapat menyebabkan wabah atau penyakit berikutnya.
"Ini adalah perubahan mendasar dalam cara kita bersiap melawan pandemi."

Sumber gambar, Getty Images
Uji coba pada 39 orang dirancang untuk menilai apakah vaksin semacam ini aman.
Studi kedua—yang melibatkan sekitar 200 orang—akan memberikan pemahaman lebih besar tentang seberapa baik vaksin ini melatih sistem kekebalan tubuh.
Temuan yang dirinci dalam Journal of Infection menyatakan bahwa dampaknya terhadap sistem kekebalan tubuh "sederhana", tetapi tetap menimbulkan antusiasme.
Prof Saul Faust, yang melakukan sebagian uji coba di University of Southampton, mengatakan desain AI "jelas memiliki potensi" dan "sangat menarik".
Ia mengatakan kepada BBC: "Yang benar-benar menarik adalah teknologi ini jauh lebih baik dalam merancang vaksin untuk potensi pandemi ketika virus berubah."
Baca juga:
Tim peneliti Cambridge kini sudah melakukan penelitian pada hewan untuk vaksin flu musiman universal yang tidak perlu disesuaikan setiap tahun dan vaksin flu burung H5N1, jika virus tersebut berubah menjadi pandemi pada manusia.
Mereka juga meneliti vaksin untuk demam berdarah virus, yang mencakup spesies Ebola.
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo disebabkan oleh spesies yang belum mendapat perlawanan vaksin.
Prof Andy Pollard, direktur Oxford Vaccine Group, tidak terlibat dalam penelitian ini, tetapi mengatakan pendekatan menggunakan AI menghasilkan bukti yang meyakinkan dalam penelitian pada hewan.
"Ini adalah data yang menarik dan orang tidak akan memperkirakan bahwa mereka mampu menghasilkan respons kekebalan seperti ini," katanya kepada BBC News.
Ujian sebenarnya, katanya, adalah apa yang terjadi dalam uji coba pada manusia karena sistem kekebalan manusia berbeda dengan tikus laboratorium, karena sistem kita dibentuk oleh bertahun-tahun infeksi.
Secara lebih luas ia mengatakan kecerdasan buatan akan menjadi "pengubah permainan" dalam penelitian vaksin. Alat AI, menurutnya, berpotensi memprediksi bagaimana respons sistem kekebalan terhadap vaksin, sehingga pengembangan menjadi jauh lebih cepat dan akan "menyelamatkan nyawa".
Prof Marian Knight, direktur ilmiah National Institute for Health and Care Research, mengatakan: "Keberhasilan luar biasa dari uji coba 'super-antigen' yang dirancang AI ini menandai lompatan penting dalam kemampuan kita untuk memberikan perlindungan terhadap virus yang luas dan tahan lama."





























