Kisah anak perempuan Aceh berjuang enam bulan pascabanjir – 'Kamu enak ada mama, bisa dimasaki, dipeluk. Saya enggak ada mama'

Berziarah, berjualan mainan, bercanda dengan teman, hingga belajar giat untuk meraih cita-cita jadi polisi wanita (polwan) adalah cara Sausan Sania, siswi kelas empat SD, berjuang melewati hari demi hari.
Keterangan gambar, Berziarah, berjualan mainan, bercanda dengan teman, hingga belajar giat untuk meraih cita-cita jadi polisi wanita (polwan) adalah cara Sausan Sania, siswi kelas empat SD, berjuang melewati hari demi hari.
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
    • Melaporkan dari, Aceh Utara
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 14 menit

Seorang anak perempuan di Aceh Utara menolak menyerah dalam melawan rasa trauma dan kehilangan, setelah bencana banjir dan longsor merenggut ibu, abang, dan neneknya enam bulan lalu.

Berziarah, berjualan mainan, bercanda dengan teman, hingga belajar giat untuk meraih cita-cita jadi polisi wanita (polwan), adalah cara Sausan Sania, siswi kelas empat SD, berjuang melewati hari demi hari.

Tulisan ini adalah seri kedua dari laporan khusus BBC News Indonesia meliput kisah perjuangan kelompok rentan, penyintas perempuan, melewati enam bulan pascabencana Sumatra.

Catatan: BBC News Indonesia telah mendapatkan izin dari ayah dan pihak sekolah untuk mewawancarai dan mendokumentasikan kegiatan Sausan Sania.

"Kamu [teman] enak ya ada mama, bisa dikawani sama mama, bisa dimasaki sama mama, bisa dipegang, bisa jalan-jalan sama mama, bisa dipeluk sama mama."

"Saya enggak ada lagi mama," kata Sausan Sania, yang berusia 10 tahun.

Ucapan itu diungkapkan Sausan ke teman sebayanya saat melihat kawannya itu menghabiskan waktu bersama ibunya.

Ibu Sausan, Nurlaila; abang tertuanya, Muhammad Zunnur; dan neneknya, Aman Husna, tewas diseret banjir Sumatra pada akhir November tahun lalu.

Kini, Sausan hidup bersama ayahnya, T. Zaman Huri, abang laki-lakinya, dan adik perempuannya.

Selain keluarga Sausan, ada lebih dari 1.200 nyawa dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat yang melayang akibat musibah itu.

Kini Sausan hidup bersama ayahnya, T. Zaman Huri, abang laki-lakinya, dan adik perempuannya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Kini Sausan hidup bersama ayahnya, T. Zaman Huri, abang laki-lakinya, dan adik perempuannya.

Sekitar pukul 10.00 pagi, Jumat (08/05), riuh suara anak-anak menggema dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Enam bulan lalu, riuh itu berubah jadi senyap akibat banjir yang menutup separuh bangunan SD itu.

Sebuah mobil tengah terparkir untuk mengangkut ratusan ompreng makan bergizi gratis (MBG), program andalan Presiden Prabowo Subianto.

Di antara anak-anak itu, Sausan terlihat sedang asyik bermain dengan temannya di halaman sekolah, yang sebagian masih tergenang air dan diselimuti lumpur banjir.

Foto keluarga Sausan sebelum bencana terjadi.

Sumber gambar, T. Zaman Huri

Keterangan gambar, Foto Sausan bersama seluruh keluarganya, sebelum bencana terjadi.

Senyum dan tawa terpancar di wajah Sausan. Sekilas, tak terlihat luka trauma dan rasa kehilangan dalam hidupnya.

Sausan dan puluhan murid itu mengenakan seragam sekolah yang baru dua pekan lalu diberikan pemerintah. Sedangkan untuk alas kaki, sebagian siswa masih ada yang menggunakan sandal.

Bel masuk kelas berbunyi. Sausan dan temannya memasuki ruang kelas empat. Tak ada kursi dan meja di dalam kelas itu.

Sausan tengah belajar di Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Sausan tengah belajar di Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Sausan dan kawannya belajar di lantai. Mereka menyimak dengan seksama saat guru menjelaskan pelajaran Matematika.

Sesaat kemudian, Sausan tersenyum saat guru memintanya maju ke depan. Dengan berani, dirinya menuliskan jawaban soal matematika di papan tulis.

Mungkin Anda tertarik:

Sebelum bisa tersenyum, pernah ada raut duka dalam sikap diam Sausan, kata Kepala SD Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Lili Andasna.

"Sausan sering termenung dan sedih pada awal masuk sekolah usai bencana," kata Lili.

Suasana Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Sumber gambar, BBC/Raja Eben

Keterangan gambar, Suasana Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Kesedihan bukan hanya terpancar dari Sausan, mayoritas siswa yang berjumlah 400 orang juga mengalami hal yang sama, tambahnya.

"Lebih dari 90% siswa kami terdampak banjir. Kami berusaha menghibur Sausan dan anak lain. 'Enggak boleh ya, Nak, kita harus siap, harus tegar. Ini adalah cobaan dari Allah', saya bilang begitu," ujar Lili.

Perlahan, tambah Lili, kesedihan Sausan dan murid lain memudar. Anak-anak berangsur ceria, tertawa, bermain bersama, dan mengikuti pelajaran dengan baik.

"Apalagi kemarin sudah dikasih baju seragam sama pemerintah, senang kali mereka," ujar Lili.

"Saya selalu bilang ke guru-guru, kita jangan terpuruk, kita harus segera bangkit, menata sekolah kita, agar anak-anak bisa semangat belajar."

Ibu Sausan, Nurlaila, abang tertuanya, Muhammad Zunnur, dan neneknya, Aman Husna, tewas diseret banjir Sumatra pada akhir November tahun lalu.

Sumber gambar, BBC/Raja Eben

Keterangan gambar, Ibu Sausan, Nurlaila, abang tertuanya, Muhammad Zunnur, dan neneknya, Aman Husna, tewas diseret banjir Sumatra pada akhir November tahun lalu.

Setelah kegiatan belajar berakhir, Sausan pulang ke rumah yang berjarak sekitar satu kilometer dari sekolahnya.

Setibanya di rumah, Sausan menunjukkan sebuah buku yasin dan tahlil. "Foto Mama dan Abang aku. Cantik ya mamaku," katanya.

Diselimuti rasa rindu, Sausan lalu berganti pakaian. Dia mengajak ayahnya, Zaman Huri, untuk berziarah ke makam ibu, abang dan neneknya.

Jarak makam keluarga Sausan sekitar 400 meter dari rumahnya. Ditemani, ayah, abang, dan adiknya, Sausan bergandengan tangan menuju makam.

Sausan bersama ayahnya, Zaman Huri, abang, serta adiknya berziarah ke makam mamanya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Sausan bersama ayahnya, Zaman Huri, abang, serta adiknya, berziarah ke makam mamanya.

Sesampainya di makam, Sausan dengan sigap mencabut rumput, mengelus batu nisan, dan berdoa.

Selama enam bulan terakhir, Sausan sering mengajak ayah dan saudaranya untuk berziarah.

Melihat makam keluarganya menjadi cara bagi Sausan untuk berjuang melawan rasa trauma, kesedihan dan kehilangan.

"Saat teringat dan kangen sama Mama, Abang, dan Nenek, aku ajak Bapak buat ziarah. Di makam, aku bercerita ke mereka dan berdoa untuk mereka, agar tenang dan bahagia di surga," kata Sausan, yang didampingi oleh ayahnya, Zaman Huri, saat wawancara.

Setibanya di rumah, Sausan lalu membereskan beragam mainan anak-anak yang dia beli secara daring.

Mainan itu bukan untuk dia gunakan, melainkan dijual kembali ke teman-teman di sekitar rumahnya.

"Beli Rp1.000, saya jual Rp2.000. Lumayan uangnya buat jajan," kata Sausan sambil tersenyum malu.

Zaman Huri bersama kedua anaknya di ruang tamu rumahnya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Zaman Huri berbincang bersama kedua anaknya di ruang tamu rumahnya.

Masih dengan raut tersipu, Sausan mengungkapkan jika dirinya bercita-cita bukan menjadi pengusaha, melainkan polisi wanita (polwan).

Berseragam penjaga keamanan, Sausan ingin membanggakan dan membahagiakan orang tuanya.

"Khususnya buat Mama, biar bangga sama aku dari surga," ujarnya.

Sausan berkata, ada satu kebahagian terakhir dirinya dengan mama, abang, dan neneknya, dari berjuta kenangan indah yang mereka habiskan bersama.

Momen indah itu terjadi dua hari sebelum bencana.

"Saya makan malam sekeluarga, sama Mama, Nenek, dan Abang. Makan ikan bakar. Itu terakhir kami jalan-jalan di luar, dan tertawa bersama," ucapnya.

Zaman Huri bersama ketiga anaknya berjalan menuju rumah, usai berziarah.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Zaman Huri bersama ketiga anaknya berjalan menuju rumah, usai berziarah.

Selain itu, dirinya juga masih mengingat pesan terakhir ibunya, sebelum mereka terpisah akibat arus banjir.

"Sebelum banjir dan keluar dari rumah, sekitar jam delapan malam, Mama bilang, 'Makan dulu ya, Nak, takutnya nanti malam naik air dan banjir. Jadi kita sudah makan', itu kata Mama," kenang Sausan.

Di balik memori indah itu tersimpan trauma pilu yang dihadapi Sausan dan keluarganya saat bencana terjadi.

Kiamat dunia

Duduk di sebelah Sausan, ayahnya Zaman Huri bercerita, bencana itu bermula pada Kamis subuh, 27 November 2025. Beberapa hari sebelumnya, hujan telah menguyur wilayahnya tanpa henti.

Anak lelaki sulung Zaman, Muhammad Zunnur, lalu mengedor-gedor pintu kamarnya.

"Itu sekitar jam 1:30 [dini hari]. Dia bilang air sudah naik, masuk ke dalam rumah. Kami terkejut, panik, karena seumur-umur belum pernah banjir. Saya pun bergegas membangunkan yang lain," ingat Zaman.

Kondisi rumah Zaman Huri saat dihantam banjir November tahun lalu.

Sumber gambar, Zaman Huri

Keterangan gambar, Kondisi rumah Zaman Huri saat dihantam banjir November tahun lalu.

Dia dan seluruh keluarganya kemudian melarikan diri dari rumah.

Di depan rumah, ternyata air telah setinggi lutut.

Zaman lalu merangkul Sausan dan anak bungsunya. Sementara nenek, istri bersama dua anak laki-lakinya saling berpegangan melawan arus banjir.

Baru sekitar 200 meter berjalan cepat, air yang deras menyeret mereka.

"Yang ada di tangan saya cuma Sausan dan si bungsu. Yang lainnya terpisah semua," ujar Zaman.

Mereka bertiga lalu terdampar di sebuah balai pengajian.

"Saat di balai, Sausan bilang bunda sudah enggak ada lagi. Kita harus banyak berdoa, harus baca yasin untuk bunda setiap malam Jumat," ucap Zaman dengan lirih.

Hanya bertahan 10 menit, mereka kembali diseret arus. Zaman pun terpisah dengan Sausan.

Dia hanya merangkul anak bungsunya.

Enam bulan telah terlewati dan masih diselimuti kesedihan, Zaman mengaku kini kesulitan untuk bekerja dan menata kembali hidup keluarganya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Enam bulan telah terlewati dan masih diselimuti kesedihan, Zaman mengaku kini kesulitan untuk bekerja dan menata kembali hidup keluarganya.

Zaman lalu meraih pohon kecil. Namun dia terlepas dan kemudian bersandar ke sebuah pohon sawit.

"Dari pohon sawit itu saya merangkak naik pelan-pelan sampe ke atas. Di situ saya bertahan dua hari dua malam tanpa makan minum sama yang kecil ini," ucapnya.

"Di hari kedua, yang kecil bilang, 'Ayah, lapar, Ayah, haus', tapi dia tidak menangis," tambahnya.

Zaman bercerita, selama di atas pohon sawit pikirannya kosong.

Yang dia lihat hanyalah kehampaan.

"Semuanya nampak seperti lautan. Cuma mukjizat yang bisa menyelamatkan kami. Istilahnya sudah berpikir tentang kemungkinan kematian."

Bahkan, Zaman bilang kondisinya saat itu seperti kiamat dunia.

"Istilahnya orang Aceh itu kayak kiamat dunia, kayak di akhirat, malam terakhir dunia ini," ujarnya.

Seorang perempuan di Aceh melihat rumahnya yang rusak dihantam banjir dan longsor akhir November tahun lalu.

Sumber gambar, Yasuyoshi CHIBA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan di Aceh melihat rumahnya yang rusak dihantam banjir dan longsor akhir November tahun lalu.

Perlahan, air mulai surut. Zaman dan anaknya lalu dievakuasi oleh sekelompok pemuda.

Sore harinya, Zaman mendengar bahwa dua anaknya yang lain, yaitu Sausan dan anak laki-lakinya, selamat.

"Sausan diselamatkan di atas pokok [pohon] pisang, dan Afkar [laki-laki] di pokok kelapa," ujarnya.

Zaman dan ketiga anaknya kemudian berkumpul dan mengungsi bersama.

"Saat bertemu mereka seperti senang, tapi sedih juga. Allah masih mengizinkan dua anak saya lain selamat, tapi yang lainnya belum ada kabar," ujarnya.

Malam harinya , Zaman bertanya ke Sausan bagaimana dia bisa terdampar di pohon pisang.

"Ingatannya mungkin 50:50. Dia bilang rasa-rasanya kayak ada yang menggendong dia, tiga orang dari dalam air. Tapi enggak tahu siapa. Pagi-paginya sudah terdampar di pohon pisang," kata Zaman.

Seorang siswi SMP di Aceh berjalan menyusuri sekolahnya yang dihantam banjir akhir November tahun lalu.

Sumber gambar, Yasuyoshi Chiba / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang siswi SMP di Aceh berjalan menyusuri sekolahnya yang dihantam banjir akhir November tahun lalu.

Atas persetujuan Zaman, Sausan menceritakan kembali momen banjir itu.

"Waktu dibawa arus, aku masih sadar. Teringat ibu, ayah, abang dua, adik, sama nenek. Mungkin saya enggak ada lagi di dunia ini. Karena saya sudah di bawah arus banjir," ujar Sausan.

Namun tiba-tiba, tambahnya, dirinya memegang sebuah kayu untuk bersandar. "Dan saya merasa ada yang gendong ke atas pohon pisang. Setelah itu saya tidak tahu lagi."

Pada hari keempat, Zaman mendengar istrinya ditemukan meninggal di kampung tetangga.

Mertuanya ditemukan pada hari kelima, dan jenazah anak pertamanya ditemukan pada hari ke-17, di area persawahan.

"Rasanya hancur sekali mendengar satu persatu keluarga saya meninggal. Semua terjadi begitu cepat," ujar Zaman.

"Rabu kami masih bercanda, ketawa-ketawa, dan jemput mertua. Malam Kamis sudah kejadian ini dan kehilangan semua," ucapnya.

Banjir yang disertai gelondong kayu besar menghantam wilayah Aceh pada 26 November tahun lalu.

Sumber gambar, Sutanta Aditya/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Banjir yang disertai gelondong kayu besar menghantam wilayah Aceh pada 26 November tahun lalu.

Di balik rasa kehilangan dan trauma, Zaman mengaku harus kuat melewati rangkaian cobaan itu, demi tiga anaknya yang selamat.

Apalagi, kata Zaman, selama dua bulan pascabencana, Sausan terlihat sedih dan terpuruk.

"Kadang dia menyendiri, sering melamun, enggak mau main dengan teman-temannya, di rumah saja. Jangankan dia, saya saja kalau di kamar sendiri sering sedih kenapa ini terjadi," ujar Zaman dengan lirih.

Ditambah lagi, kata Zaman, dua bulan awal itu, Sausan tak bersekolah.

Namun, perlahan Sausan kembali ceria.

"Mungkin dari kawan-kawannya dari semangat ibu gurunya dan dari dia kerja jualan," kata Zaman.

Selama enam bulan terakhir, Sausan sering mengajak ayah dan saudaranya untuk berziarah ke makam mama, adik dan neneknya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Selama enam bulan terakhir, Sausan sering mengajak ayah dan saudaranya untuk berziarah ke makam mama, adik dan neneknya.

Enam bulan telah terlewati dan masih diselimuti kesedihan, Zaman mengaku kini kesulitan untuk bekerja dan menata kembali hidup keluarganya.

Dia harus membagi peran sebagai seorang ayah dan juga ibu.

Di satu sisi, Zaman ingin mencari uang. Di sisi lain, tak ada yang merawat dan menjaga anak-anaknya jika dia keluar rumah. Sedangkan, kebutuhan keluarga harus dipenuhi.

"Saya berharap segera ada pemulihan ekonomi bagi kami, rezeki untuk kami. Agar semua cepat berlalu," ujarnya.

Sementara itu di penghujung pertemuan kami, Sausan berharap agar sekolahnya segera diperbaiki dan dilengkapi, agar dirinya dapat belajar dengan normal.

"Dan, doakan mama, abang, dan nenek aku, supaya mereka tenang di surga," ujar Sausan.

'Bapak, Ibu, tolong bangun sekolah kami'

Enam bulan berlalu, puluhan anak SDN 5 Peusangan Siblah Krueng masih belajar di dalam tenda putih darurat, di Kabupaten Bireuen, Aceh.

Sumber gambar, BBC/Raja Eben

Keterangan gambar, Enam bulan berlalu, puluhan anak SDN 5 Peusangan Siblah Krueng masih belajar di dalam tenda putih darurat, di Kabupaten Bireuen, Aceh.

Berjarak hampir 100 kilometer dari sekolah Sausan, puluhan anak SDN 5 Peusangan Siblah Krueng tengah belajar di dalam tenda darurat berwarna putih, di Kabupaten Bireuen, Aceh.

Di depan pintu masuk tenda yang didirikan Kemendikdasmen itu, puluhan sendal murid berserakan.

Di belakang tenda, dua bangunan SD itu—yang hanya berpaut ratusan meter dari sungai—sebagian besar tertimbun tanah.

Sementara itu, sebagian atap sekolah yang berwarna hijau nampak bolong.

Enam bulan terlewati, rumput dan ilalang tumbuh subur di atas lumpur yang mulai mengering di dalam ruangan SD itu.

Kondisi SDN 5 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, usai dihantam banjir enam bulan lalu.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Kondisi SDN 5 Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, usai dihantam banjir enam bulan lalu.

Siang itu, Senin (11/05), di tengah cuaca yang mendung, sebagian murid tengah belajar tentang pentingnya rasa cinta dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di sudut tenda yang berbeda, sebagian murid tengah belajar mata pelajaran yang lain.

Deru suara beberapa kipas angin yang berputar tak menganggu konsentrasi murid yang duduk di atas karpet.

Ditemani sebuah meja lipat di depannya, para siswa SD itu serius menyimak pelajaran.

Guru PPPK yang telah mengajar di SD itu sejak 2023, Irnawati, bilang, total siswa yang belajar dalam tenda berjumlah 40 orang.

Usai mengajar, Irnawati berkata, enam bulan pascabencana, tak ada yang berubah.

"Kayak ginilah, lihat sendiri kan, enggak ada yang berubah. Lima bulan kami di dalam tenda. Susah senangnya sama anak-anak. Kami kepanasan, kebanjiran, tak ada buku, alat belajar, belajar berdesakan, semua sama-sama," ujar Irnawati.

Siang itu, Senin (11/05), di tengah cuaca yang mendung, para murid tengah belajar tentang pentingnya rasa cinta dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Siang itu, Senin (11/05), di tengah cuaca yang mendung, para murid tengah belajar tentang pentingnya rasa cinta dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Irnawati bilang semua perlengkapan belajar; dari buku, alat tulis, meja, kursi, dokumen murid, hingga laptop guru, habis tak tersisa, dilahap banjir.

Pasrah adalah satu kata yang menggambarkan kondisi sekolahnya kini.

"Habis itu kita mohon sama Allah mungkin ada keajaiban yang datang," katanya.

Walaupun berharap keajaiban, Irnawati dan guru lainnya tak menyerah. Beragam cara mereka lakukan agar para murid dapat terus belajar.

Salah satu akalnya adalah dengan membagi murid dalam beberapa kelompok.

"Kami buat dalam kelompok. Kelas satu di ujung sini, kelas dua di sana, dan kelas lainnya. Kami terus mengajar mereka dengan fasilitas seadanya," ujar Irnawati sambil menangis.

Satu dari banyak hal yang membuatnya sedih adalah saat para muridnya bertanya:

"Pak, Ibu guru, kapan kami ada sekolah lagi? Ibu, kapan kita dibuat sekolah baru? Kami guru hanya bisa bilang sabar dan kasih semangat saja," katanya.

"Selain itu pas anak-anak mau ujian. Kami menumpang di tempat orang, dan itu bayar lagi Pak," tambahnya.

 Beberapa murid SDN 5 Peusangan Siblah Krueng mengunakan getek menuju sekolah mereka.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Beberapa murid SDN 5 Peusangan Siblah Krueng mengunakan getek menuju sekolah mereka.

Irnawati sempat mendengar bahwa SD tempat dirinya mengajar akan dibangun kembali pada akhir April lalu. Namun, ujarnya, sampai sekarang belum ada perubahan.

"Harapan guru, ya tempatnya yang layak lah, Pak. Kalau memang dibuat sekolah baru, segeralah dibuat. Anak-anak kami enggak sanggup lagi duduk di tenda Pak."

Senada, belasan murid itu juga meminta agar sekolahnya diperbaiki.

"Bapak, Ibu, tolong bangun sekolah kami," ujar mereka.

Selain sekolah itu, sekitar 220 orang murid SD dan siswa SMP di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, juga dilaporkan masih belajar di tenda darurat dalam keterbatasan.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin mengaku bahwa masih ada murid yang belajar di tenda darurat.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Keterangan gambar, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin mengaku bahwa masih ada murid yang belajar di tenda darurat.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin mengakui bahwa masih ada murid yang belajar dari tenda darurat.

"Masih ada buku terbatas, masih ada di bawah tenda. Tapi Kemendikdasmen sudah turun mengajak kami untuk mendata ulang. Ini ada 31 sekolah kita buat RKD [ruang kelas darurat], mengganti tenda karena tenda terlalu panas. Anak-anak enggak sanggup belajar dalam waktu yang lama," kata Murthalamuddin.

Namun, dia berkata butuh waktu sekitar setahun lagi agar kegiatan belajar para murid di Aceh dapat kembali "agak normal".

"Terutama banyak fasilitas belajar, buku, alat praktik, dan lainnya semua habis. Jadi memang butuh waktu. Kita berharap perhatian khusus pemerintah pusat karena di tengah serba kekurangan ini kalau tanpa dampingan pemerintah akan sulit," ujarnya.

Kini, ujarnya, upaya yang sedang dilakukan Pemprov Aceh adalah mengalokasikan anggaran untuk pakaian, sepatu, dan tas sekolah, sebanyak 40.000 pasang.

Sebuah gedung sekolah di Aceh hancur akibat banjir pada akhir November tahun lalu.

Sumber gambar, Sutanta Aditya/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah gedung sekolah di Aceh hancur akibat banjir pada akhir November tahun lalu.

Kemendikdasmen mengakui bahwa masih ada ratusan sekolah yang terpaksa melangsungkan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan ruang kelas darurat, tenda sementara, atau menumpang di fasilitas sekolah terdekat.

Di Aceh, dari 3.120 sekolah yang terdampak, masih ada 36 sekolah yang belajar di tenda, 34 kelas darurat, dan empat sekolah menumpang, berdasarkan data Kemendikdasmen hingga Mei 2026.

Jika ditarik secara keseluruhan, Kemendikdasmen mencatat, total terdapat 4.922 sekolah yang terdampak bencana Sumatra tahun lalu.

Hal itu menyebabkan terganggunya layanan pendidikan bagi sekitar 707.161 peserta didik serta aktivitas pembelajaran oleh 59.620 guru dan tenaga kependidikan.

Namun, hingga pertengahan Mei 2026, Kemendikdasmen mengklaim 4.820 sekolah telah kembali menjalankan proses pembelajaran secara penuh.

Selain itu, pemerintah juga telah merealisasikan program revitalisasi fisik sekolah yang mencapai Rp2,9 triliun dan menyasar lebih 3.084 sekolah. Rinciannya adalah 2.085 satuan pendidikan di Aceh, 332 sekolah di Sumbar, dan 667 sekolah di Sumut.

"Seluruh bantuan ini bertujuan untuk mendukung keberlangsungan layanan pendidikan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan di tengah proses pemulihan pascabencana," kata Mendikdasmen, Abdul Mu'ti dalam keterangannya.

Kemendikdasmen juga memberikan bantuan senilai Rp2 juta per orang per bulan selama tiga bulan berturut-turut kepada 53.215 guru dan tenaga kependidikan.